Dalam bentangan sejarah pemikiran Islam, mazhab teologi Asy'ariyyah muncul sebagai jawaban atas pergolakan intelektual dan sosial yang melanda dunia Islam pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriah. Bermula dari krisis yang dialami oleh Muktazilah—yang sempat mendominasi wacana keagamaan dengan dukungan kekuasaan tetapi kemudian mengalami kemunduran karena faktor internal dan eksternal—Asy'ariyyah hadir sebagai jalan tengah yang mengedepankan keseimbangan antara akal dan wahyu. Bagi umat Islam masa kini, warisan pemikiran Abu al-Hasan al-Asy'ari (w. 324 H) ini tetap relevan sebagai fondasi teologi yang moderat, rasional, dan berakar kuat pada tradisi Sunni.
Dari Muktazilah ke Asy'ariyyah: Sebuah Transformasi Pemikiran
Pada puncak kejayaannya, Muktazilah mendominasi percakapan teologis dengan penekanan berlebihan pada akal (rasionalisme ekstrem) dan sikap keras terhadap kelompok lain. Namun, seperti digambarkan dalam Ilmu Kalam wa Madarisuhu karya Dr. Faishal Badir ‘Aun, perpecahan internal, intoleransi, dan keterikatan dengan kekuasaan politik akhirnya melemahkan pengaruh mereka. Di tengah situasi ini, Abu al-Hasan al-Asy'ari—yang awalnya adalah murid setia tokoh Muktazilah, Abu Ali al-Jubba'i—mengalami peralihan keyakinan setelah merenungkan kontradiksi dalam ajaran gurunya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, al-Asy'ari bermimpi bertemu Nabi Muhammad ﷺ yang memerintahkannya untuk berpegang pada sunnah. Momen ini menjadi titik balik di mana ia melepaskan diri dari Muktazilah dan membangun mazhab baru yang berusaha mendamaikan akal dan naql (wahyu).
Prinsip Dasar Teologi Asy'ariyyah: Antara Akal dan Wahyu
Asy'ariyyah tidak menolak akal, tetapi menempatkannya dalam kerangka yang proporsional. Mazhab ini menerima penggunaan akal untuk memahami keberadaan Allah, keesaan-Nya, dan kebenaran wahyu, namun menolak ketika akal dianggap lebih berwenang daripada nash (teks suci) dalam hal-hal yang telah ditetapkan secara qath'i (pasti). Beberapa prinsip utama Asy'ariyyah yang tetap relevan hari ini adalah:
1. Pembuktian Wujud Allah melalui Observasi Alam
Al-Asy'ari dan pengikutnya seperti al-Baqillani menggunakan argumen kosmologis yang mudah dipahami: segala sesuatu di alam ini berubah, bergerak, dan berkembang. Setiap yang berubah pasti ada yang mengubahnya. Karena alam semesta penuh dengan perubahan, maka pasti ada Pengubah mutlak, yaitu Allah. Pendekatan ini mengajak manusia merenungi ciptaan Allah tanpa terjebak dalam spekulasi filosofis yang rumit.
2. Keesaan Allah yang Rasional
Asy'ariyyah menegaskan keesaan Allah dengan argumen logis: jika ada dua tuhan, dan satu ingin menggerakkan suatu benda sementara yang lain ingin menghentikannya, maka akan terjadi konflik dan kekacauan. Karena alam semesta teratur, maka Pengaturnya pasti satu. Ini sesuai dengan ayat: "Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa." (QS Al-Anbiya/ 21: 22).
3. Sifat Allah: Tidak Menyamakan-Nya dengan Makhluk
Asy'ariyyah menolak penafsiran harfiah yang menyamakan Allah dengan makhluk (tasybih), tetapi juga menolak pengingkaran total terhadap sifat-sifat Allah (ta'thil). Mereka meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat seperti ilmu, qudrah, dan kalam, yang sesuai dengan keagungan-Nya tanpa perlu mempertanyakan bagaimana-nya (bila kayf).
4. Teori Kasb (Perolehan): Menjawab Masalah Takdir dan Kebebasan
Di tengah perdebatan antara Qadariyah (yang menekankan kebebasan mutlak manusia) dan Jabariyah (yang menekankan paksaan total), Asy'ariyyah menawarkan jalan tengah dengan teori kasb. Manusia memiliki kehendak dan kemampuan, tetapi semua itu terjadi dalam kerangka kehendak dan penciptaan Allah. Dengan kata lain, manusia memperoleh (yaktasib) perbuatannya, sedangkan yang menciptakan hakikat perbuatan itu adalah Allah. Konsep ini menjaga keadilan ilahi (manusia tetap bertanggung jawab) sekaligus keagungan kekuasaan Allah.
5. Keadilan Ilahi yang Melampaui Pemahaman Manusia
Berbeda dengan Muktazilah yang mewajibkan Allah berbuat baik dan terbaik (ash-shalah wa al-ashlah) berdasarkan definisi akal manusia, Asy'ariyyah menegaskan bahwa keadilan Allah tidak harus sesuai dengan standar manusia. Allah sebagai Pemilik mutlak berhak berbuat apa saja dalam kerajaan-Nya. Apa yang tampak sebagai keburukan dalam pandangan manusia bisa memiliki hikmah yang tidak mereka ketahui.
6. Iman: Pengakuan Hati dan Lisan
Dalam persoalan iman dan kufur, Asy'ariyyah mengambil posisi moderat: pelaku dosa besar (selain syirik) tetap dianggap muslim meskipun fasik, tidak serta-merta dikafirkan seperti Khawarij, juga tidak ditempatkan di manzilah bain al-manzilatain (posisi antara) seperti Muktazilah. Ini mencegah eksklusivisme dan pengafiran sesama muslim.
7. Melihat Allah di Akhirat: tanpa Tasybih
Asy'ariyyah meyakini bahwa melihat Allah di akhirat adalah benar, sebagaimana ditegaskan dalil naqli, tetapi melihat tersebut tidak sama dengan melihat makhluk. Ini adalah ru'yah makhshushah yang sesuai dengan keagungan Allah.
Relevansi Asy'ariyyah untuk Muslim Masa Kini
1. Penangkal Ekstremisme Pemikiran
Di era diimana pemikiran keagamaan sering terpolarisasi antara liberalisme ekstrem dan literalis radikal, Asy'ariyyah menawarkan keseimbangan. Ia menghargai akal tanpa mengabaikan teks, dan menghormati teks tanpa menolak peran akal sehat.
2. Dasar Moderasi Beragama
Prinsip tawassuth (jalan tengah) Asy'ariyyah sejalan dengan semangat Islam wasathiyah yang dianjurkan Al-Qur'an. Ini tercermin dari sikapnya yang menolak pengafiran sesama muslim, menghindari debat kusir tentang ayat mutasyabihat, dan fokus pada esensi akidah.
3. Pendekatan yang Membumi dan Rasional
Argumen-argumen Asy'ariyyah tentang keberadaan dan keesaan Allah menggunakan logika yang mudah dipahami orang awam, sekaligus kokoh secara intelektual. Ini membantu umat Islam masa kini menjawab tantangan skeptisisme dengan bahasa yang masuk akal tanpa terjebak filsafat rumit.
4. Menjaga Kesatuan Umat
Dengan menolak takfir (mengkafirkan) terhadap pelaku dosa besar dan menerima keragaman dalam masalah furu' (cabang), Asy'ariyyah berkontribusi pada kohesi sosial umat Islam. Hal ini sangat dibutuhkan di tengah masyarakat muslim yang plural saat ini.
5. Responsif terhadap Konteks Sosial-Politik
Dalam masalah kepemimpinan (imamah), Asy'ariyyah menekankan pentingnya pemimpin yang dikenal, dipilih melalui musyawarah, dan memenuhi kriteria kapabilitas serta moral—bukan sekadar keturunan. Prinsip ini sejalan dengan tuntutan sistem pemerintahan modern yang mengedepankan transparansi dan akuntabilitas.
Warisan Intelektual yang Tetap Hidup
Pemikiran Asy'ariyyah tidak berhenti pada al-Asy'ari, tetapi dikembangkan oleh generasi penerus seperti al-Baqillani, al-Juwaini, al-Ghazali, al-Syahrastani, dan Fakhruddin al-Razi. Karya-karya mereka—seperti Al-Ibanah, Al-Luma', Al-Tamhid, Al-Irshad, dan Al-Milal wa al-Nihal—tetap menjadi rujukan penting studi teologi Islam hingga hari ini.
Bagi muslim kontemporer, mempelajari Asy'ariyyah bukan sekadar nostalgia sejarah, tetapi upaya mengakar kembali pada tradisi intelektual Sunni yang kokoh, terbuka, dan adaptif. Dalam menghadapi kompleksitas zaman modern—dari tantangan sains hingga pluralisme—kerangka teologi Asy'ariyyah menyediakan fondasi yang cukup kuat untuk berdialog tanpa kehilangan identitas, cukup lentur untuk beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip.
Sebagaimana al-Asy'ari dahulu mencari titik temu antara akal dan wahyu di tengah gelombang pemikiran yang saling bertubrukan, umat Islam hari ini juga dapat menemukan dalam warisannya sebuah kompas teologis: teguh dalam prinsip, bijak dalam metode, dan inklusif dalam semangat. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, jalan tengah Asy'ariyyah mungkin justru adalah jalan yang paling tepat menuju keutuhan iman dan harmoni sosial.
Referensi Utama:
Aun, Faisal Badir. 'Ilm al-Kalām wa Madārisuhu. Kairo: Dar al-Thaqafah lil Nasyr wa al-Tauzi' (t.t.).
Dari Muktazilah ke Asy'ariyyah: Sebuah Transformasi Pemikiran
Pada puncak kejayaannya, Muktazilah mendominasi percakapan teologis dengan penekanan berlebihan pada akal (rasionalisme ekstrem) dan sikap keras terhadap kelompok lain. Namun, seperti digambarkan dalam Ilmu Kalam wa Madarisuhu karya Dr. Faishal Badir ‘Aun, perpecahan internal, intoleransi, dan keterikatan dengan kekuasaan politik akhirnya melemahkan pengaruh mereka. Di tengah situasi ini, Abu al-Hasan al-Asy'ari—yang awalnya adalah murid setia tokoh Muktazilah, Abu Ali al-Jubba'i—mengalami peralihan keyakinan setelah merenungkan kontradiksi dalam ajaran gurunya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, al-Asy'ari bermimpi bertemu Nabi Muhammad ﷺ yang memerintahkannya untuk berpegang pada sunnah. Momen ini menjadi titik balik di mana ia melepaskan diri dari Muktazilah dan membangun mazhab baru yang berusaha mendamaikan akal dan naql (wahyu).
Prinsip Dasar Teologi Asy'ariyyah: Antara Akal dan Wahyu
Asy'ariyyah tidak menolak akal, tetapi menempatkannya dalam kerangka yang proporsional. Mazhab ini menerima penggunaan akal untuk memahami keberadaan Allah, keesaan-Nya, dan kebenaran wahyu, namun menolak ketika akal dianggap lebih berwenang daripada nash (teks suci) dalam hal-hal yang telah ditetapkan secara qath'i (pasti). Beberapa prinsip utama Asy'ariyyah yang tetap relevan hari ini adalah:
1. Pembuktian Wujud Allah melalui Observasi Alam
Al-Asy'ari dan pengikutnya seperti al-Baqillani menggunakan argumen kosmologis yang mudah dipahami: segala sesuatu di alam ini berubah, bergerak, dan berkembang. Setiap yang berubah pasti ada yang mengubahnya. Karena alam semesta penuh dengan perubahan, maka pasti ada Pengubah mutlak, yaitu Allah. Pendekatan ini mengajak manusia merenungi ciptaan Allah tanpa terjebak dalam spekulasi filosofis yang rumit.
2. Keesaan Allah yang Rasional
Asy'ariyyah menegaskan keesaan Allah dengan argumen logis: jika ada dua tuhan, dan satu ingin menggerakkan suatu benda sementara yang lain ingin menghentikannya, maka akan terjadi konflik dan kekacauan. Karena alam semesta teratur, maka Pengaturnya pasti satu. Ini sesuai dengan ayat: "Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa." (QS Al-Anbiya/ 21: 22).
3. Sifat Allah: Tidak Menyamakan-Nya dengan Makhluk
Asy'ariyyah menolak penafsiran harfiah yang menyamakan Allah dengan makhluk (tasybih), tetapi juga menolak pengingkaran total terhadap sifat-sifat Allah (ta'thil). Mereka meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat seperti ilmu, qudrah, dan kalam, yang sesuai dengan keagungan-Nya tanpa perlu mempertanyakan bagaimana-nya (bila kayf).
4. Teori Kasb (Perolehan): Menjawab Masalah Takdir dan Kebebasan
Di tengah perdebatan antara Qadariyah (yang menekankan kebebasan mutlak manusia) dan Jabariyah (yang menekankan paksaan total), Asy'ariyyah menawarkan jalan tengah dengan teori kasb. Manusia memiliki kehendak dan kemampuan, tetapi semua itu terjadi dalam kerangka kehendak dan penciptaan Allah. Dengan kata lain, manusia memperoleh (yaktasib) perbuatannya, sedangkan yang menciptakan hakikat perbuatan itu adalah Allah. Konsep ini menjaga keadilan ilahi (manusia tetap bertanggung jawab) sekaligus keagungan kekuasaan Allah.
5. Keadilan Ilahi yang Melampaui Pemahaman Manusia
Berbeda dengan Muktazilah yang mewajibkan Allah berbuat baik dan terbaik (ash-shalah wa al-ashlah) berdasarkan definisi akal manusia, Asy'ariyyah menegaskan bahwa keadilan Allah tidak harus sesuai dengan standar manusia. Allah sebagai Pemilik mutlak berhak berbuat apa saja dalam kerajaan-Nya. Apa yang tampak sebagai keburukan dalam pandangan manusia bisa memiliki hikmah yang tidak mereka ketahui.
6. Iman: Pengakuan Hati dan Lisan
Dalam persoalan iman dan kufur, Asy'ariyyah mengambil posisi moderat: pelaku dosa besar (selain syirik) tetap dianggap muslim meskipun fasik, tidak serta-merta dikafirkan seperti Khawarij, juga tidak ditempatkan di manzilah bain al-manzilatain (posisi antara) seperti Muktazilah. Ini mencegah eksklusivisme dan pengafiran sesama muslim.
7. Melihat Allah di Akhirat: tanpa Tasybih
Asy'ariyyah meyakini bahwa melihat Allah di akhirat adalah benar, sebagaimana ditegaskan dalil naqli, tetapi melihat tersebut tidak sama dengan melihat makhluk. Ini adalah ru'yah makhshushah yang sesuai dengan keagungan Allah.
Relevansi Asy'ariyyah untuk Muslim Masa Kini
1. Penangkal Ekstremisme Pemikiran
Di era diimana pemikiran keagamaan sering terpolarisasi antara liberalisme ekstrem dan literalis radikal, Asy'ariyyah menawarkan keseimbangan. Ia menghargai akal tanpa mengabaikan teks, dan menghormati teks tanpa menolak peran akal sehat.
2. Dasar Moderasi Beragama
Prinsip tawassuth (jalan tengah) Asy'ariyyah sejalan dengan semangat Islam wasathiyah yang dianjurkan Al-Qur'an. Ini tercermin dari sikapnya yang menolak pengafiran sesama muslim, menghindari debat kusir tentang ayat mutasyabihat, dan fokus pada esensi akidah.
3. Pendekatan yang Membumi dan Rasional
Argumen-argumen Asy'ariyyah tentang keberadaan dan keesaan Allah menggunakan logika yang mudah dipahami orang awam, sekaligus kokoh secara intelektual. Ini membantu umat Islam masa kini menjawab tantangan skeptisisme dengan bahasa yang masuk akal tanpa terjebak filsafat rumit.
4. Menjaga Kesatuan Umat
Dengan menolak takfir (mengkafirkan) terhadap pelaku dosa besar dan menerima keragaman dalam masalah furu' (cabang), Asy'ariyyah berkontribusi pada kohesi sosial umat Islam. Hal ini sangat dibutuhkan di tengah masyarakat muslim yang plural saat ini.
5. Responsif terhadap Konteks Sosial-Politik
Dalam masalah kepemimpinan (imamah), Asy'ariyyah menekankan pentingnya pemimpin yang dikenal, dipilih melalui musyawarah, dan memenuhi kriteria kapabilitas serta moral—bukan sekadar keturunan. Prinsip ini sejalan dengan tuntutan sistem pemerintahan modern yang mengedepankan transparansi dan akuntabilitas.
Warisan Intelektual yang Tetap Hidup
Pemikiran Asy'ariyyah tidak berhenti pada al-Asy'ari, tetapi dikembangkan oleh generasi penerus seperti al-Baqillani, al-Juwaini, al-Ghazali, al-Syahrastani, dan Fakhruddin al-Razi. Karya-karya mereka—seperti Al-Ibanah, Al-Luma', Al-Tamhid, Al-Irshad, dan Al-Milal wa al-Nihal—tetap menjadi rujukan penting studi teologi Islam hingga hari ini.
Bagi muslim kontemporer, mempelajari Asy'ariyyah bukan sekadar nostalgia sejarah, tetapi upaya mengakar kembali pada tradisi intelektual Sunni yang kokoh, terbuka, dan adaptif. Dalam menghadapi kompleksitas zaman modern—dari tantangan sains hingga pluralisme—kerangka teologi Asy'ariyyah menyediakan fondasi yang cukup kuat untuk berdialog tanpa kehilangan identitas, cukup lentur untuk beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip.
Sebagaimana al-Asy'ari dahulu mencari titik temu antara akal dan wahyu di tengah gelombang pemikiran yang saling bertubrukan, umat Islam hari ini juga dapat menemukan dalam warisannya sebuah kompas teologis: teguh dalam prinsip, bijak dalam metode, dan inklusif dalam semangat. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, jalan tengah Asy'ariyyah mungkin justru adalah jalan yang paling tepat menuju keutuhan iman dan harmoni sosial.
Referensi Utama:
Aun, Faisal Badir. 'Ilm al-Kalām wa Madārisuhu. Kairo: Dar al-Thaqafah lil Nasyr wa al-Tauzi' (t.t.).
