Fiqih

Tasawuf dalam Keislaman

Tasawuf dalam Keislaman

Irsan Saputra(212010001)
3 Januari 2026
361 views
Tasawuf dalam Keislaman

Tasawuf dalam Keislaman

Pendahuluan
Tasawuf merupakan salah satu dimensi penting dalam ajaran Islam yang menekankan penyucian jiwa, pendalaman spiritual, dan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. Jika syariat berfungsi mengatur aspek lahiriah kehidupan beragama, maka tasawuf hadir untuk membina aspek batiniah agar ibadah tidak sekadar ritual, melainkan jalan menuju kesadaran ilahiah yang mendalam.
Pengertian Tasawuf
Secara etimologis, kata tasawuf sering dikaitkan dengan kata shuf (bulu domba), yang melambangkan kesederhanaan hidup para zahid awal Islam. Secara terminologis, tasawuf adalah upaya membersihkan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan akhlak terpuji, sehingga seorang muslim mampu merasakan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupannya.
Para ulama mendefinisikan tasawuf dengan beragam redaksi, namun intinya sama: proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT (taqarrub ilallah).
Dasar Tasawuf dalam Al-Qur’an dan Hadis
Tasawuf bukan ajaran di luar Islam, melainkan berakar kuat pada Al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an menegaskan pentingnya penyucian jiwa sebagaimana firman Allah:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Dalam hadis Jibril, Rasulullah SAW menjelaskan konsep ihsan:
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Konsep ihsan inilah yang menjadi ruh utama tasawuf.
Sejarah Perkembangan Tasawuf
Tasawuf berkembang sejak masa awal Islam, dimulai dari gerakan zuhud para sahabat dan tabi’in yang hidup sederhana dan fokus pada akhirat. Pada abad-abad berikutnya, tasawuf berkembang menjadi disiplin ilmu yang sistematis melalui tokoh-tokoh besar seperti Hasan al-Bashri, Junaid al-Baghdadi, Imam Al-Ghazali, hingga Jalaluddin Rumi.
Imam Al-Ghazali memiliki peran penting dalam mendamaikan tasawuf dan syariat. Melalui karyanya Ihya’ Ulumuddin, beliau menegaskan bahwa tasawuf sejati tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Konsep Utama dalam Tasawuf
Beberapa konsep penting dalam tasawuf antara lain:
  1. Tazkiyatun Nafs – proses penyucian jiwa dari sifat-sifat seperti riya, hasad, dan takabbur.
  2. Maqamat – tahapan spiritual yang dilalui seorang salik, seperti taubat, sabar, zuhud, tawakal, dan ridha.
  3. Ahwal – kondisi spiritual yang dianugerahkan Allah, seperti khauf (takut), raja’ (harap), dan mahabbah (cinta kepada Allah).
  4. Dzikir – sarana utama untuk mengingat Allah dan menenangkan hati.
Tasawuf dan Akhlak
Salah satu tujuan utama tasawuf adalah pembentukan akhlak mulia. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Tasawuf mendorong seorang muslim untuk bersikap rendah hati, ikhlas, sabar, dan penuh kasih sayang, baik kepada sesama manusia maupun seluruh makhluk.
Relevansi Tasawuf di Era Modern
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan materialistik, tasawuf menawarkan ketenangan batin dan keseimbangan hidup. Nilai-nilai tasawuf membantu manusia mengendalikan hawa nafsu, mengurangi stres, serta menumbuhkan kesadaran bahwa tujuan hidup bukan semata-mata materi, melainkan kedekatan dengan Allah dan kebermaknaan hidup.
Penutup
Tasawuf merupakan jantung spiritual dalam keislaman yang berfungsi menghidupkan nilai-nilai ibadah dan akhlak. Dengan memadukan syariat, akidah, dan tasawuf, seorang muslim dapat menjalani kehidupan yang seimbang antara lahir dan batin. Tasawuf bukan pelarian dari dunia, melainkan jalan untuk menjalani dunia dengan hati yang bersih dan orientasi akhirat yang kuat.

Ingin membaca rubrik lainnya?